Sejak jutaan tahun silam, Pulau Jawa telah ditinggali peradaban manusia. Mulai dari zaman prasejarah, saat Pithecanthropus erectus hidup di sekitar lembah Bengawan Solo hingga menjadi pulau dengan kepadatan penduduk terbesar di Indonesia saat ini. Peradaban manusia tidak bisa dipisahkan dengan alam. Alam memainkan peran penting sebagai penyedia sumber kehidupan manusia. Atas dasar itu, Sebumi dan Pertamina Foundation berkolaborasi dalam mengadakan program Rimba Kembara, yang berlangsung selama dua hari di kawasan Blora dan Ngawi. Tujuannya jelas untuk mengingat kembali sejarah peradaban manusia dan penerapan ekonomi berkelanjutan yang masih diterapkan di area tersebut saat ini.
Dalam upayanya melakukan kegiatan CSR, Pertamina Foundation mengajak masyarakat untuk ikut bersumbangsih melalui crowdfunding di platform Kitabisa bertajuk “Kampanye #TemanBumi”. Nah, lima orang peserta yang terpilih untuk mengikuti program Rimba Kembara adalah orang-orang yang sebelumnya ikut berdonasi di kampanye tersebut. Sebelumnya, mereka semua juga mengunjungi Museum Trinil dan Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem) untuk memahami kearifan lokal manusia masa lampau sekaligus peran penting sungai Bengawan Solo di sekitarnya terhadap kehidupan masyarakat.
Para peserta juga diajak langsung untuk melihat dan berpartisipasi dalam program penanaman dan pemberdayaan masyarakat desa yang dibiayai oleh hasil donasi mereka. Aksi konservasi yang juga merupakan hasil kolaborasi bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) berlokasi di hutan milik Pertamina dan UGM.Dilansir dari situs resmi Pertamina, 170.544 ton emisi CO2 ditargetkan akan diserap dalam kurun waktu 10 tahun.
(Senangnya bisa merasakan pengalaman menanam pohon kepuh dan nyamplung secara langsung.)
Untuk mendorong ekonomi masyarakat, sistem agroforestri diterapkan di atas area seluas 3.000 hektare tersebut melalui kombinasi tanaman pertanian dan pepohonan keras. Agroforestri sendiri adalah sistem penggunaan lahan secara terpadu yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak yang dilakukan baik secara bersama-sama atau bergilir dengan tujuan untuk menghasilkan dari penggunaan lahan yang optimal dan berkelanjutan. Kawasan agroforestri ini dikelola oleh gabungan masyarakat Desa Pitu, Desa Ngrawoh, Desa Getas, dan Desa Megeri. Ini dimaksudkan agar lahan kritis difungsikan kembali secara produktif. Proyek ini membuktikan bahwa ekonomi bukanlah antitesis dari aspek lingkungan dan sosial dan bisa berjalan secara bersamaan. Masyarakat bisa bertahan hidup dari penjualan hasil hutan bukan kayu dan kolaborasi bersama lainnya. Pendapatan masyarakat pun meningkat dibandingkan saat mereka masih menjadi petani tebu dan buruh pabrik.
Pengalaman berbeda dialami oleh masyarakat Desa Ngrawoh. Di sana, setiap kepala keluarga memiliki ternak, umumnya 1-3 ekor, sebagai investasi ketika musim kemarau panjang datang. Banyak juga petani jagung menghadapi masalah saat banyak limbah tongkol jagung berserakan. Awalnya limbah tongkol jagung tersebut dibakar, tetapi mereka sadar bahwa pembakaran sampah organik menyumbang peningkatan emisi gas rumah kaca yang berbahaya. Oleh karena itu, muncullah ide kreatif mengolah limbah tongkol jagung tersebut menjadi pakan ternak. Mereka mencampur tongkol jagung dengan bahan-bahan lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak. Produk pakan tersebut diberi nama “Wana Feed” dan telah dipasarkan di sekitar Blora dan Ngawi. Selain itu, warga juga mengolah kotoran ternak menjadi kompos.
(Pengalaman tim Sebumi bersama masyarakat mengolah limbah tongkol jagung menjadi pakan ternak.)
Ide masyarakat mengolah limbah tongkol jagung yang berlimpah menjadi pakan ternak tersebut membuahkan hasil yang signifikan. Terbukti kambing milik mereka menjadi semakin gemuk dan memiliki bulu yang mengilat. Selain itu, mereka juga berhasil menciptakan nilai tambah, yaitu produk hilirisasi pakan ternak yang berasal dari kegiatan ekonomi sirkular.
Rimba Kembara kembali mengingatkan kita bahwa pencapaian SDGs tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi multipihak. Aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi saling terhubung satu sama lainnya. Selain itu, kita juga dapat membentuk perubahan paradigma berpikir, mulai dari melihat limbah sisa material yang sudah tidak terpakai lagi agar diolah secara sirkular sehingga bermanfaat kembali sampai menarik pembelajaran yang bermanfaat dari sisa peradaban masa lalu. Keduanya mengantarkan kita pada satu kesimpulan yang sama: tiada sisa yang tidak bermakna.