Apa yang ada di benak kalian saat mendengar berita tentang menggunungnya sampah di pantai? Seperti yang marak diberitakan beberapa waktu silam, tentang ‘pantai terkotor’ yang sebelumnya pernah dibersihkan oleh anak muda pegiat lingkungan, Pandawara Group, yang kembali dipenuhi oleh sampah. Mengapa permasalahan sampah seakan tidak pernah berhenti dan dipandang sebelah mata?
Menurut data KLHK, pada tahun 2020, sebanyak 1.772,7 gram sampah per m2 telah mencemari wilayah laut Indonesia.Berbicara tentang dampak ekonomi, peneliti BRIN juga memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi sekitar Rp250 triliun akibat pencemaran sampah plastik. Estimasi kerugian tersebut baru berasal dari tiga sektor, yaitu maritim, kelautan, dan perikanan. Padahal, dampak negatif pencemaran sampah plastik jauh lebih luas daripada itu.
Keberadaan sampah plastik bukan hanya mengancam kehidupan ekosistem laut yang menjadi sumber pangan manusia, tetapi juga berdampak langsung bagi kesehatan manusia. Plastik mampu menyerap logam berat dan mudah melepaskan bahan kimia ketika terkena suhu tinggi sehingga ini menjadi ancaman berlipat ganda jika tidak ditanggulangi secara serius.
Lalu, dengan cara apa kita bisa mulai menyelesaikan masalah ini?
Mulailah dengan menumbuhkan kesadaran bahwa pencemaran yang terjadi di laut merupakan hasil aktivitas manusia yang dilakukan di daratan (hulu). Daerah hulu memiliki beragam manfaat jika dikelola dengan baik. Area tersebut dapat menjadi area terbuka hijau yang memiliki fungsi penyerapan emisi karbon, mencegah potensi banjir, menjadi lumbung air saat kemarau, dan tempat rekreasi yang menawarkan kenyamanan. Dengan dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, masyarakat sekitar bisa membuka usaha di sekitarnya sehingga pendapatan mereka dapat ikut meningkat.
Salah satu area hulu yang menarik perhatian Sebumi adalah Situ Rawa Kalong di Cimanggis, Depok. Setelah direvitalisasi dan diresmikan di tahun 2022 lalu, situ (danau) seluas 8,25 hektare ini betul-betul bertransformasi, dari yang sebelumnya merupakan area pembuangan sampah menjadi area wisata multifungsi. Tanggal 15 Juni lalu merupakan momentum pertama kali Sebumi melakukan aktivitas pelestarian alam langsung di Situ Rawa Kalong. Aksi lingkungan dalam rangka World Ocean Day ini dilakukan bersama DB Schenker Indonesia (perusahaan yang bergerak di bidang logistik dan supply chain).
Selain membersihkan sampah plastik yang mengotori situ, tim Sebumi dan DB Schenker Indonesia juga membersihkan area sekelilingnya. Perasaan bahagia mulai dirasakan saat kami berhasil mengumpulkan 121,3 kg sampah dalam 90 menit. Sampah yang terkumpul kemudian disetorkan ke bank sampah terdekat dan dikelola oleh pemuda lokal sekitar Rawa Kalong. Setelah kegiatan membersihkan situ selesai, tim DB Schenker Indonesia melakukan penanaman pohon yang memiliki fungsi ekologis sekaligus nilai produktivitas yang baik, seperti tin, jambu, mangga, dan ketapang kencana.
Acara kemudian dilanjutkan dengan mengukur kualitas air Situ Rawa Kalong. Aktivitas ini menjadi penting mengingat Situ Rawa Kalong dikelilingi oleh tiga pabrik dan pernah menjadi area yang tercemar limbah.
Parameter air yang diukur adalah pH dan suhu air. Kondisi pH yang netral dan suhu yang optimum menunjukkan bahwa kualitas air di suatu area cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan dari organisme yang ada di sana. pH yang netral menunjukkan nilai 7, sedangkan pH dikategorikan asam ketika nilainya <7. Suhu optimum dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton yang ada di ekosistem situ adalah 20-30 °C. Berdasarkan pengukuran sampel air dari bagian tepi dan tengah situ, nilai pH menunjukkan angka 9,7 dan 9,8, yang berarti basa. Hasil pengukuran menunjukkan angka tersebut karena beberapa saat sebelumnya turun hujan di daerah sekitar Situ Rawa Kalong. Sementara itu, suhu di tepi dan tengah danau menunjukkan angka 27 °C dan 28,2 °C. Artinya, suhu air mendukung pertumbuhan fitoplankton secara maksimal.
Dapat disimpulkan bahwa kualitas air Situ Rawa Kalong saat ini termasuk dalam kategori baik. Namun, tetap dibutuhkan pengujian lebih lanjut di laboratorium untuk menguji beberapa parameter lingkungan yang dapat meningkatkan kredibilitas dari hasil pengujian kualitas air. Saat ini situ dimanfaatkan sebagai area rekreasi saja, tidak seperti dulu yang sekaligus menjadi area budidaya. Dengan adanya support system yang baik seperti saat ini, kami berharap Situ Rawa Kalong akan terus terjaga kelestariannya.
Melakukan hal-hal sederhana secara kolektif dapat berdampak besar, seperti aksi yang dilakukan oleh Sebumi dan DB Schenker ini. Menjaga kelangsungan hidup di bumi, khususnya laut, tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di area sekitaran pantai, tetapi juga yang tinggal di daerah hulu. Ini merupakan bukti bahwa menjaga kelangsungan hidup dapat dilakukan oleh semua orang, di mana pun, dan kapan pun.
Menanam pohon di area penghijauan Situ Rawa Kalong