“Arsitektur kerap meminta banyak dari alam, termasuk meminta perhatian dengan keinginan untuk membuat sesuatu yang tampak hebat dan menonjol. Saya pikir ini saatnya memberi. Memberi pada sekitar, memberi oksigen, memberi hal baik.” (Eko Prawoto, Arsitek)
By Karuna Devi Tanuwidjaja, Feri Feriza, dan Iben Yuzenho
Menemukan Tantangan dalam Mewujudkan Hunian Berkelanjutan
Apa yang pertama kali muncul di benak kita saat mendengar kata "rumah"? Tempat yang aman, nyaman, dan menjadi pelindung, bukan? Sebuah rumah ideal memberikan perasaan tenang, dengan udara segar yang membuat tubuh kita sehat. Namun, apa artinya memiliki rumah yang indah jika udara yang kita hirup di sekitarnya tercemar dan berbahaya?
Jakarta, sebagai salah satu kota besar di dunia, ironisnya juga dikenal memiliki kualitas udara yang buruk. Data terbaru dari Katadata menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta sering kali masuk kategori "tidak sehat". Contohnya, pada sebuah pagi di bulan Agustus 2024, indeks kualitas udara (IKU) mencapai angka 168, dengan konsentrasi partikel PM2,5 sebesar 80 mikrogram per meter kubik. Ini bukan sekadar angka, tapi ancaman nyata bagi kesehatan kita sehari-hari. Tinggal di rumah yang nyaman tidak ada artinya jika udara di sekitarnya terus mencemari paru-paru kita.
Tidak hanya itu, ancaman terhadap kesehatan kita tidak berhenti di sana. Pembangunan rumah, yang kita harapkan menjadi tempat perlindungan, justru bisa memperparah kerusakan lingkungan. Industri konstruksi menyumbang sekitar 39% emisi karbon global, dan perluasan lahan perumahan sering kali merampas hutan—paru-paru Bumi kita. Akibatnya, selain mempercepat perubahan iklim, kita juga harus berhadapan dengan banjir, erosi tanah, dan habitat hewan liar yang rusak. Hewan-hewan tersebut yang kehilangan rumahnya, tak jarang memasuki wilayah pemukiman, menciptakan konflik baru antara manusia dan alam.
Jadi, kita dihadapkan pada dilema: Apakah kita benar-benar merasa aman tinggal di rumah kita, jika dampaknya adalah mengorbankan lingkungan yang lebih luas? Bagaimana mungkin rumah yang nyaman bisa ada di tengah-tengah ekosistem yang sedang sekarat?
Rumah Berkelanjutan: Mengintegrasikan Alam ke Dalam Kehidupan Kita
Membangun rumah yang sehat dan nyaman bukan hanya soal desain fisik, tetapi juga tentang bagaimana kita mengintegrasikan alam ke dalam ruang tinggal kita. Salah satu cara terbaik untuk mencapai ini adalah dengan mengoptimalkan peran keanekaragaman hayati di sekitar rumah. Alam tidak hanya menyediakan oksigen yang kita hirup, tetapi juga mengatur iklim mikro, menjaga kelembapan, dan bahkan memberikan sumber pangan. Keanekaragaman hayati yang kaya membuat rumah kita lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim, penyakit, hingga serangan hama. Selain itu, rumah yang terhubung dengan alam bisa menjadi sarana edukasi yang menarik bagi seluruh keluarga, mengenalkan flora dan fauna yang ada di sekitar kita.
Setiap tindakan kecil yang kita lakukan di rumah memiliki konsekuensi yang lebih besar terhadap lingkungan. Ambil contoh sederhana: mencuci pakaian. Sisa detergen yang terbuang menjadi limbah cair dan bisa mencemari sungai atau sumber air di sekitar kita. Begitu pula dengan sampah rumah tangga. Tanpa pengelolaan yang baik, sampah akan menumpuk dan menyebabkan polusi serta masalah kesehatan. Maka dari itu, memahami rumah secara holistik, dari aktivitas sehari-hari hingga dampaknya terhadap lingkungan, adalah langkah pertama menuju hunian yang lebih berkelanjutan.
Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan ini? Salah satu solusinya adalah dengan memasukkan elemen-elemen alam ke dalam desain rumah. Penghijauan, misalnya, bisa memperkaya oksigen dan menyejukkan udara sekitar. Jendela besar memungkinkan cahaya alami masuk, mengurangi ketergantungan pada lampu. Menggunakan cat dengan emisi rendah, mendaur air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, dan beralih ke energi terbarukan adalah beberapa langkah kecil, tetapi signifikan.
Tidak hanya itu, menciptakan ruang terbuka seperti kebun permakultur di halaman rumah dapat berfungsi ganda. Selain menyediakan sayuran segar dan tanaman herbal, kebun tersebut juga menjadi habitat bagi burung, lebah, dan serangga lain yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan adanya sistem komposter dan pemilahan sampah, kita juga turut mengurangi limbah yang akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Hunian berkelanjutan bukan lagi sekadar konsep, tapi kebutuhan. Dengan sedikit penyesuaian, kita bisa menciptakan rumah yang tidak hanya nyaman dan sehat bagi penghuninya, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Mengajak Publik Menuju Hunian Berkelanjutan: Shelter Workshop oleh Sebumi
Dalam upaya memperkenalkan konsep hunian berkelanjutan, Sebumi menggelar acara bertajuk Sustainability Workshop: Shelter pada tanggal 29 Juni 2024. Melalui workshop ini, Sebumi ingin menunjukkan bahwa membangun rumah yang ramah lingkungan adalah langkah nyata yang bisa diambil oleh siapa saja.
Workshop ini diadakan di Bumi Macakal, rumah milik Ibu Tanti dan Pak Irman Yudiana. Pasangan suami istri yang telah mengubah rumah mereka menjadi contoh hidup dari hunian mandiri, yang mampu menyediakan sendiri kebutuhan air, pangan, dan energi, serta memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. Rumah mereka menjadi laboratorium hidup yang mendemonstrasikan bagaimana teknologi hijau dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengubah cara kita membangun dan mengelola rumah bukan hal yang mudah, terutama dalam sistem yang telah lama berjalan. Namun, workshop ini membantu peserta memahami berbagai aspek penting dalam hunian berkelanjutan—mulai dari penggunaan energi terbarukan, penghijauan, hingga pilihan material yang ramah lingkungan. Selain itu, tata letak dan desain rumah yang tepat juga dibahas agar hunian bisa berfungsi secara efisien dan tetap selaras dengan alam.
Untuk mengasah kemampuan para peserta, workshop ini juga menghadirkan seorang arsitek, Julian Palapa, yang ahli dalam menerapkan prinsip keberlanjutan pada setiap karyanya. Sebelumnya, Sebumi juga sering berkolaborasi dengan arsitek-arsitek berwawasan lingkungan lainnya, seperti Rahmat "Kibo" Indrani dan Feby Kaluara. Selain sesi pemaparan, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi secara langsung mengenai kondisi rumah mereka saat ini. Julian memberikan saran bagaimana mereka bisa mulai beralih menuju hunian berkelanjutan dengan langkah-langkah yang realistis dan terukur.
Dan aktivitas favorit para peserta adalah membuat desain dan maket rumah impian mereka yang ramah lingkungan, dengan mempertimbangkan aspek-aspek penting seperti pengelolaan energi, tata letak yang memungkinkan cahaya dan ventilasi alami, serta integrasi ruang hijau, termasuk pentingnya pemilihan material yang berkelanjutan dan desain yang adaptif terhadap perubahan iklim. Seru banget bukan?
Mengubah Gaya Hidup: Mulailah dari Rumah
Sebumi yakin bahwa gaya hidup berkelanjutan masih sangat relevan dan bahkan penting di era modern ini. Inilah alasan mengapa Sebumi berkomitmen untuk terus mengadakan Sustainability Workshop Series secara rutin. Workshop ini bukan hanya sarana belajar dari para ahli dan pengalaman satu sama lain, tetapi juga wadah untuk merasakan langsung betapa menyenangkannya hidup berdampingan dengan alam. Jangan lewatkan kesempatan untuk ikut serta dan rasakan pengalaman baru yang inspiratif!
Sebumi menyelenggarakan workshop mengenai gaya hidup berkelanjutan dengan berbagai modul tema yang mencakup food, waste, energy, shelter, biodiversity, water, transportation, fashion, dan mindfulness. Setiap modul dirancang untuk membantu masyarakat mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan harmonis dengan alam. Cek jadwal kegiatan menarik ini di Instagram dan website Sebumi untuk mendapatkan informasi lengkap!