Sebelum memulai membaca artikel ini, izinkan kami bertanya, apa yang Anda rasakan saat membayangkan dan membaca penggalan paragraf ini? Mohon bayangkan diri Anda sebagai masyarakat kelas menengah yang sebetulnya sudah paham akan bahaya plastik sekali pakai dan emisi karbon yang berlebih.
“Aku sangat kesulitan untuk mencari tempat di mana aku bisa mengisi air minum saat botolku kehabisan air. Begitu pula setiap kali aku kehabisan sabun dan sampo. Di sekeliling rumahku, semua toko menjual produk dengan kemasan sekali pakai. Selain memakan waktu lama untuk meriset, jarak toko yang menjual produk ramah lingkungan juga sangat jauh. Harga produk tersebut pun sangat mahal dan aku tidak mampu membelinya. Aku harus berhemat. Namun, bagaimana nasib banyak nyawa yang akan terancam karena banyak “aku” lainnya di luar sana?”
Apakah Anda merasa sedih, bingung, atau bimbang? Anda pasti akan mengerti bagaimana cerita tersebut mampu menggugah hati semua orang yang membacanya. Inilah fungsi dari storytelling. Teknik storytelling yang tepat mampu menghadirkan fakta yang mengena di hati banyak orang, demi satu tujuan akhir, yaitu membuat audience mau melakukan sesuatu demi perubahan kolektif.
Sebumi Menggelar Earth Storytelling Initiative
(Ramon Tungka memaparkan materi pada training Earth Storyteller Initiative di Learning Atelier, Jakarta Selatan)
Isu lingkungan merupakan sebuah isu yang holistik. Jika kita berbicara mengenai perubahan iklim, terdapat banyak pihak yang berkontribusi, sekaligus banyak hal yang berkaitan satu sama lain turut memengaruhi. Sebumi sadar bahwa perubahan iklim akan berdampak bagi kelangsungan hidup banyak entitas di bumi. Namun, sebaliknya, ketika banyak entitas tidak memperoleh rasa aman dan hak-hak hidupnya di dunia, semakin lama akan terjadi ketidakseimbangan yang mengakibatkan kerusakan ekosistem. Kesadaran akan hal ini menjadi tujuan Sebumi mengadakan serangkaian kampanye bertajuk Earth Storyteller Initiative.
Earth Storyteller Initiative akan memberi ruang dan kesempatan bagi para content creator untuk menyuarakan perasaan banyak entitas yang diwakilinya. Kampanye ini tidak hanya bertujuan mengajak masyarakat menjadi peka akan isu lingkungan, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sekaligus menyadari fakta bahwa setiap entitas memiliki peran dalam keberlanjutan sebuah ekosistem.
Sebelum periode pembuatan konten, peserta difasilitasi untuk mengikuti training eksklusif di tanggal 28 September 2024. Sebumi memberi kesempatan agar para peserta dapat dipertemukan langsung dan dibimbing oleh para pakar di bidang kepenulisan dan storytelling Contohnya adalah Ramon Tungka yang merupakan seorang aktor dan influencer yang lantang menyuarakan hal-hal terkait gaya hidup ramah lingkungan dan kearifan lokal, Eunike Fersa yang merupakan seorang travel storyteller, dan Agustinus Wibowo yang merupakan seorang penulis buku best seller “Titik Nol”. Training diadakan secara daring dan luring di Learning Atelier, Jakarta Selatan. Sebumi juga didukung oleh berbagai mitra startup yang turut mendukung kelestarian lingkungan, seperti Burgreens, Learning Atelier, dan Tiket.com.
(Makan siang peserta training disponsori oleh Burgreens, restoran organik yang menyediakan makanan vegetarian)
Senang sekali melihat para peserta cukup antusias saat mengikuti training, terlebih lagi saat praktik menulis konten berlangsung. Peserta yang mengikuti training secara online pun berkesempatan bertanya langsung kepada para pemateri dan menyampaikan karyanya melalui grup WhatsApp. Ada peserta yang menyuarakan nasib ayam, hiu paus, masyarakat adat, bahkan asisten rumah tangga yang sering kali tidak cukup memperoleh hak-haknya selama bekerja.
Peserta dapat langsung membuat konten setelah training selesai. Topik konten terbagi atas tiga kategori, yaitu bentang alam, spesies terancam punah, dan masyarakat marjinal. Masyarakat marjinal tersebut tidak hanya terbatas pada masyarakat adat, tetapi juga masyarakat miskin kota, orang-orang dengan profesi termarjinalkan, kaum minoritas, dan masih banyak lagi. Konten-konten yang akan dibuat oleh peserta nantinya akan dinilai oleh tim juri, berdasarkan keunikan dan pesan yang disampaikan sebagai poin utama, diikuti oleh aspek visual dan engagement rate (jumlah like, share, dan comment). Periode pembuatan konten akan ditutup di tanggal 13 Oktober dan selanjutnya akan dilakukan seleksi pemenang.
(Sesi Penulisan Cerita Perjalanan dan Tekniknya dibawakan oleh Agustinus Wibowo dan Eunike Fersa)
Storytelling merupakan kegiatan yang sangat powerful. Karena itu, sangat diharapkan agar semangat untuk semakin peka dan terkoneksi dengan hati dapat dilakukan terus-menerus, bahkan setelah kampanye Earth Storytelling Initiative ini berakhir. Kita semua memiliki kekuatan yang sama untuk menyuarakan suara-suara mereka yang tidak terdengar. Jadi, mulailah peka dan lihatlah sekeliling Anda, karena ada banyak keajaiban yang menanti untuk diperhatikan.
Gimana, seru kan acaranya?
View this post on Instagram